Just stay and keep talking

Posts tagged ‘baca’

Gallery

Ayam Bakar dan Sate Bikin Wajah Keriput?

Aroma wangi sate atau ayam yang sedang dibakar sangat menggelitik selera. Jika suka makan ayam panggang, ikan bakar, steak, atau sate, sebaiknya berhati-hati. Karena penelitian terbaru menunjukkan bahwa makanan yang dibakar bisa bikin kulit keriput!

Peneliti dari University College London, Inggris, menemukan bahwa makanan yang dibakar mengandung Advanced Glycation End (AGE). Dalam kadar tinggi, zat ini dapat mempercepat penuaan.

Advanced Glycation adalah reaksi antara karbohidrat (gula dan tepung) dengan protein atau lemak pada suhu tinggi. “Makanan tinggi lemak dan protein yang berasal dari hewan kaya akan AGE. Selain itu, hidangan ini juga akan membentuk AGE baru ketika dimasak pada temperatur tinggi,” jelas Dr. Anastasia Kalea, salah satu peneliti.

Teknik dry heat seperti membakar, menggoreng, dan memanggang menghasilkan lebih banyak AGE daripada merebus atau mengukus. Semakin tinggi suhu dan semakin lama memasaknya, semakin banyak AGE yang dihasilkan. AGE akan mulai terbentuk ketika makanan berubah menjadi kecokelatan.

AGE diserap dalam tubuh. Jika terlalu banyak, AGE dapat menimbulkan kerutan dan kulit mengendur. Zat ini merusak kolagen dan elastin yang menjaga kulit tetap muda.

Huffington Post memberikan tips agar kulit tetap muda dan Anda tetap bisa makan enak. Bumbui daging, pepeslah ikan, turunkan suhu saat memasak, serta rebus atau kukus makanan. Cara memasaka ini dapat mencegah terbentuknya AGE.

Langkah lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi gula dalam makanan, menambahkan sayuran, serta menambahkan cairan (misalnya air kaldu).

Sumber

Advertisements
Gallery

KBBI Online: Kamus Besar Bahasa Indonesia Referensi Kata Baku

Pengetahuan akan bahasa Indonesia merupakan hal yang sangat penting. Sebagai penduduk negara Indonesia, sudah sepatutnya kita mengenal dan mengetahui tengan seluk beluk bahasa Indonesia.

Salah satu cara untuk mempelajari bahasa Indonesia adalah dengan menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun sayangnya, tak semua orang merasa untuk harus membeli kamus tersebut. Alasan harga dan tak terlalu membutuhkan kerap menjadi hal yang pertama diungkapkan.

Namun terdapat solusi bagi Anda yang ingin mempelajari bahasa Indonesia tanpa harus membeli kamus besar. Cara tersebut adalah dengan menggunakan fasilitas KBBI Online. Fitur yang dimiliki oleh situs milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini pun sama dengan KBBI fisik. Bahkan di sini, Anda bisa menemukan kata-kata baku dengan lebih mudah. Anda tinggal mengetikkan kata yang ingin Anda cari, dan selanjutnya hasilnya akan muncul.

Tampilan situs KBBI Online ini pun tidak terlalu memakan bandwidth akses internet Anda. Dengan tampilan yang sederhana, menggunakan warna dominan hitam dan putih, situs ini bisa diakses dengan mudah.  Kalau Anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang bahasa Indonesia dan ingin mengunjungi situs ini, Anda bisa klik link ini.

Situs ini sendiri berdiri sejak tahun 2008. Pihak Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berharap dengan kemunculan situs ini, maka masyarakat Indonesia bisa mengenal lebih jauh dan semakin mencintai bahasanya sendiri. Tentunya cukup miris bukan jika kita fasih berbahasa asing baik secara tertulis maupun lisan, namun kurang mengetahui tentang bahasa sendiri.

Sumber

Gallery

Nonton Film Sedih Justru Buat Orang Lebih Bahagia

Saat nonton film romantis dengan kisah yang sedih, biasanya kita akan ikut menitikkan air mata. Tapi efek setelah menontonnya ternyata bisa membuat perasaan lebih bahagia.

Pernahkan Anda bertanya, kenapa ‘Titanic’ menjadi film romansa terlaris sepanjang masa? Begitu juga dengan ‘Romeo and Juliet’, siapa yang bisa melupakan kisah tragis dua pasangan paling romantis ini? Bukan semata-mata karena dua film tersebut dibintangi aktor terkenal Leonardo DiCaprio. Tapi dari sebuah penelitian terungkap bahwa orang suka menonton film dimana karakter fiksinya menderita atau mati karena patah hati. Apa sebabnya?

Para peneliti di Ohio State University pun menganalisa teori yang cukup kontradiktif itu. Mereka melihat bahwa semakin banyak kesedihan dan kisah tragis yang terekspos dalam sebuah film, penonton akan semakin menikmatinya.

Studi yang dipimpin oleh Profesor Silva Knobloch-Westerwick tersebut, melibatkan 100 orang responden. Mereka diminta menonton film ‘Atonement’, mengisahkan sepasang kekasih yang terpisah dan terbunuh di tengah peperangan.

Sebelum dan setelah menonton film, peneliti memberi responden sejumlah pertanyaan untuk mengetahui kadar kebahagiaan mereka. Peneliti juga menanyakan perasaan mereka sebanyak tiga kali selama film diputar, guna mengukur level berbagai macam emosi yang mereka rasakan, termasuk kesedihan.

Usai menonton film, para responden pun diminta untuk mengungkapkan seberapa besar mereka menikmati film tersebut. Dari cara mereka menceritakan, peneliti melihat bagaimana mereka merefleksikan diri sendiri, hubungan asmara dan kehidupan pribadi secara umum.

Berdasarkan hasil analisa dari respon penonton, peneliti bisa memastikan bahwa kisah-kisah tragis dan sedih justru bisa membuat orang lebih bahagia. Film bertema sedih merangsang reaksi kimiawi yang menimbulkan perasaan lega ataupun senang..

Hal itu karena, dengan menyaksikan kesedihan, membuat orang lebih memerhatikan beberapa aspek positif dalam kehidupan mereka sendiri. Ketika melihat sang tokoh sangat menderita, responden jadi membandingkan kehidupan nyata mereka dengan film dan berpikir, “Oh, hidup saya ternyata tidak seburuk karakter pria/wanita itu di dalam film’.

“Kisah tragis sering berfokus pada tema cinta yang abadi, dan ini menyebabkan penonton berpikir tentang orang-orang yang mereka cintai serta mensyukuri setiap berkat yang telah mereka dapat dalam kehidupan nyata,” jelas Silvia, seperti dikutip dari Daily Mail.

Penelitian tersebut menyimpulkan, semakin responden memikirkan tentang hubungan pribadi mereka sendiri dan orang yang dicintai (sebagai efek dari menonton film bertema sedih), kebahagiaan yang mereka rasakan semakin meningkat.

Sumber

Gallery

Bisnis Menggiurkan Bando dan Bros ‘Korea’ Made In Banyuwangi

Demam mode dan gaya K-Pop terus melanda Indonesia bahkan hingga tahun ini. Tren ini disambut seorang pebisnis asal Banyuwangi, Jawa Timur lewat jualan aksesoris bergaya Korea seperti bando, bros, bandana, hingga jepit rambut.

Adalah Deni Bastian seorang pebisnis yang memiliki Denbas Shop di Banyuwangi. Terinspirasi demam film serial dan grup musik asal Korea, Deni menjalankan bisnis aksesoris wanita bercita rasa Korea sejak 2 tahun lalu.

“Nggak bisa dipungkiri kalau tren aksesoris cewek sangat dipengaruhi trend dari Korea yang selalu menampilkan aksesoris-aksesoris yang lucu dan fresh baik warna maupun bentuknya,” kata Deni kepada detikFinance, Sabtu (14/1/2012).

Dikatakan Deni tren gaya Korea sebenarnya telah muncul sejak beberapa tahun yang lalu, namun di Indonesia tren tersebut mencapai puncaknya pada tahun lalu dengan gempuran film serial dan grup musik Korea yang masuk.

“Tren ini sepertinya akan berlangsung beberapa tahun ke depan,” kata Deni.

Diceritakan Deni, produk aksesoris Korea yang paling diminati adalah bros, bando, jepit rambut, bandana, cincin, dan kalung. Setiap produk tersebut selalu dipasangkan dengan pita, renda, tali, bulu dan kancing dengan warna-warna cerah karena target pembeli adalah remaja berumur antara 15 tahun sampai 20 tahunan.

“Kalau di Denbas Shop sendiri, yang paling diminati adalah bros, kemudian bando, jepit, bandana, cincin kemudian diikuti oleh kalung yang semuanya selalu dikombinasikan pita, renda, tali, bulu, dan kancing. Serta perpaduan warna yang colorfull karena target pasar kami adalah remaja putri sampai anak kuliahan, kebanyakan rentang umur 15 tahun sampai 20 tahunan,” tambahnya.

Harga jual eceran untuk aksesoris tersebut dibanderol mulai Rp 15.000 sampai Rp 45.000 per item. Deni bisa mendapatkan keuntungan Rp 10.000 sampai Rp 15.000 untuk tiap produk yang dijualnya.

“Karena Denbas Shop fokusnya para reseller, jadi kita menjual secara paket, misalnya Rp 450.000 dapat 9 bros, 7 bando, 6 kalung, 5 jepit dan kita dapat untung Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per item, setiap bulan kita bisa jual rata-rata 400-an buah,” katanya lagi.

Jadi jika dihitung 400 buah produk yang dijual per bulan dengan keuntungan per produk Rp 10.000-Rp 15.000, maka Deni bisa meraup keuntungan Rp 4 juta-Rp 6 juta per bulannya. Cukup menggiurkan bukan?

Deni percaya tren aksesoris seperti kalung, bando, jepit khususnya untuk remaja putri di tahun ini akan sangat didominasi oleh warna-warna cerah. Bentuk dan motif yang lucu dan unik juga akan banyak diminati. Karena itu produksi tahun ini akan di fokuskan pada warna-warna cerah.

Adapun produk Deni ini dijual kepada para reseller yang tersebar di berbagai daerah di luar Banyuwangi seperti Malang, Surabaya, Jakarta, dan Kalimantan.

Sumber

Gallery

Asal-Usul Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia mempunyai sejarah jauh lebih panjang daripada Republik ini sendiri. Bahasa Indonesia telah dinyatakan sebagai bahasa nasional sejak tahun 1928, jauh sebelum Indonesia merdeka. Saat itu bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa persatuan dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai perekat bangsa. Saat itu bahasa Indonesia menjadi bahasa pergaulan antaretnis (lingua franca) yang mampu merekatkan suku-suku di Indonesia. Dalam perdagangan dan penyebaran agama pun bahasa Indonesia mempunyai posisi yang penting.

Deklarasi Sumpah Pemuda membuat semangat menggunakan bahasa Indonesia semakin menggelora. Bahasa Indonesia dianjurkan untuk dipakai sebagai bahasa dalam pergaulan, juga bahasa sastra dan media cetak. Semangat nasionalisme yang tinggi membuat perkembangan bahasa Indonesia sangat pesat karena semua orang ingin menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa.

Pada tahun 1930-an muncul polemik apakah bisa bahasa Indonesia yang hanya dipakai sebagai bahasa pergaulan dapat menjadi bahasa di berbagai bidang ilmu. Akhirnya pada tahun 1938 berlangsung Kongres Bahasa Indonesia yang pertama di Solo. Dalam pertemuan tersebut, semangat anti Belanda sangat kental sehingga melahirkan berbagai istilah ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia. Istilah belah ketupat, jajaran genjang, merupakan istilah dalam bidang geometri yang lahir dari pertemuan tersebut.

Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945. Bahasa Indonesia adalah bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu. Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah, dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai pengantar pendidikan di sekolah di Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern, paling tidak dalam bentuk informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.

Bentuk yang lebih formal, disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif bahasa Melayu Pasar.

Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan budaya. Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi bahasa Melayu Pasar sudah terlanjur diadopsi oleh banyak pedagang yang melewati Indonesia.

Penyebutan pertama istilah “Bahasa Melayu” sudah dilakukan pada masa sekitar 683-686 M, yaitu angka tahun yang tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuna dari Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa atas perintah raja Sriwijaya, kerajaan maritim yang berjaya pada abad ke-7 dan ke-8. Wangsa Syailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuna di Jawa Tengah. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.

Karena terputusnya bukti-bukti tertulis pada abad ke-9 hingga abad ke-13, ahli bahasa tidak dapat menyimpulkan apakah bahasa Melayu Klasik merupakan kelanjutan dari Melayu Kuna. Catatan berbahasa Melayu Klasik pertama berasal dari Prasasti Terengganu berangka tahun 1303. Seiring dengan berkembangnya agama Islam dimulai dari Aceh pada abad ke-14, bahasa Melayu klasik lebih berkembang dan mendominasi sampai pada tahap di mana ekspresi “Masuk Melayu” berarti masuk agama Islam.

Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.

Bahasa Melayu Riau dipilih sebagai bahasa persatuan Negara Republik Indonesia atas beberapa pertimbangan sebagai berikut:

1. Jika bahasa Jawa digunakan, suku-suku bangsa atau puak lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan puak (golongan) mayoritas di Republik Indonesia.

2. Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan dengan bahasa Melayu Riau. Ada tingkatan bahasa halus, biasa, dan kasar yang dipergunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila pengguna kurang memahami budaya Jawa, ia dapat menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.

3. Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan Bahasa Melayu Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Maluku, Jakarta (Betawi), ataupun Kutai, dengan pertimbangan pertama suku Melayu berasal dari Riau, Sultan Malaka yang terakhir pun lari ke Riau selepas Malaka direbut oleh Portugis. Kedua, ia sebagai lingua franca, Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa Cina Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.

4. Pengguna bahasa Melayu bukan hanya terbatas di Republik Indonesia. Pada tahun 1945, pengguna bahasa Melayu selain Republik Indonesia masih dijajah Inggris. Malaysia, Brunei, dan Singapura masih dijajah Inggris. Pada saat itu, dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, diharapkan di negara-negara kawasan seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa ditumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara-negara jiran di Asia Tenggara.

Dengan memilih Bahasa Melayu Riau, para pejuang kemerdekaan bersatu lagi seperti pada masa Islam berkembang di Indonesia, namun kali ini dengan tujuan persatuan dan kebangsaan. Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian distandardisasi (dibakukan) lagi dengan nahu (tata bahasa), dan kamus baku juga diciptakan. Hal ini sudah dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.

Mulanya Bahasa Indonesia ditulis dengan tulisan Latin-Romawi mengikuti ejaan Belanda, hingga tahun 1972 ketika Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dicanangkan. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.

Sumber

Gallery

Nama Hewan versi Basa Jawa

1.Anjing: kirik

2.Ayam : kuthuk

3.Babi : gembluk

4.Badak : plencing

5.Bandeng  : nener

6.Banteng  : wareng

7.Bebek : meri

8.Belut  : udet

9.Buaya  : krete

10.Burung  : piyik

11.Cacing  : lur

12.Cecak : sawiyah

13.Celeng  : genjik

14.Emprit   : indhil

15.Gagak  : engkah

16.Gajah    : bledug

17.Gangsir : tlondho

18.Ikan kutuk : kotesan

19.Ikan    :  beyongan

20.Jangkrik : gendholo

21.Kadal  : tobil

22.Kambing   : cempe

23.Kancil : kenthi

24.Katak : cebong/precil

25.Kelelawar : kampret

26.Kepiting kali(Yuyu) :   beyes

27.Kerbau  : gudel

28.Kijang   : kompreng

29.Kucing : cemeng

29.Kuda   : belo

30.Kutu kepala:  kor

31.Laba-laba (Kemangga) : criwi

32.Lele : jabrisan/lendhi

33.Lintah : pacet

34.Lutung : kowe

35.Macan : gogor

36.Menjangan: kompreng

37.Mentok : minti/edel

38.Merak : ucung

39.Monyet : munyuk

40.Penyu/Bulus : ketul

41.Sapi : pedet

42.Semut ngangrang (S.merah) : kroto

43.Singa : dibal

44.Tikus  : cindil

45.Udang : grago

46.Ular  : kisi/ucet

47.Nyamuk : uget-uget

Sumber

Gallery

Lupakan Viagra, Sepakbola Lebih Mendongkrak Stamina Bercinta

Obat-obatan seperti viagra bisa mengatasi susah ereksi dan kurang stamina saat bercinta. Namun jika tidak ingin memakai obat-obat yang mahal dan banyak efek samping, ada cara yang lebih murah dan menyenangkan yakni bermain sepakbola.

Penelitian terbaru di Univeristy of Washington menunjukkan, pria yang baru saja bermain sepakbola mengalami peningkatan hormon testosteron rata-rata 30 persen. Hormon seks pria ini salah satu fungsinya adalah mendongkrak gairah dan stamina saat bercinta.

Peningkatan ini bersifat sementara, namun cukup lama untuk memberi waktu bagi para pria untuk menemui pasangannya di rumah masing-masing. Hingga kurang lebih 1 jam setelah pertandingan, kadar hormon testosteron rata-rata masih 15 persen lebih tinggi dari normal.

Fakta lain yang tak kalah menarik, efek ini paling dirasakan oleh para pria yang menempati posisi sebagai striker dalam pertandingan sepakbola. Dibandingkan pria yang menempati posisi lain seperti bek dan penjaga gawang, striker mengalami peningkatan hormon testosteron paling dramatis.

Temuan ini terungkap ketika para peneliti yang dipimpin oleh Ben Trumble melakukan pengamatan terhadap 8 tim sepakbola yang bermain dalam sebuah turnamen. Seluruh pemain berasal dari etnis Tsimane yang tinggal di berbagai wilayah di Bolivia.

Etnis Tsimane dipilih dalam penelitian ini karena secara genetis memiliki kadar testosteron yang rendah namun stabil sepanjang hidupnya. Dibanding etnis lain, etnis Tsimane juga lebih jarang mengalami masalah kegemukan dan penyakit kronis sepertu gangguan jantung.

Menurut Trumble, peningkatan kadar testosteron saat bermain sepakbola terjadi sebagai mekanisme alamiah tubuh untuk mempertahankan diri dari risiko infeksi. Gerakan yang penuh tenaga disertai kontak fisik dengan pemain lain merupakan sinyal bagi tubuh untuk mengantisipasi kemungkinan cedera dan infeksi.

“Menjaga kadar testosteron tetap tinggi dapat menjaga sistem kekebalan tubuh,” jelas Trumble seperti dikutip dari Dailymail, Senin.

Sumber

Tag Cloud