Just stay and keep talking

Posts tagged ‘cerita’

Gallery

Cerita Cinta Seorang Suami

Aku membencinya, Itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun
menikahinya, Aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun
menikah terpaksa, Aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, Setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan
lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan
siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, Suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka. Ketika menikah, Aku menjadi istri yang teramat manja.
Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan
padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, Akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, Aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, Aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, Aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, Aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya
dengan rapi, Aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang
dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, Tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun
ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, Dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit.
Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua
keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami. Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang
ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, Dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, Ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan
tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun
sebelumnya, Saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir. Yaah, Karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, Aku juga membenci kedua orangtuaku. Sebelum ke kantor, Biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, Ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut.
Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak.
Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu Seakan-akan berat untuk pergi. Ketika mereka pergi, Akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon. Namun betapa terkejutnya aku, Ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang
terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan. Aku menelepon suamiku dan bertanya, “Maaf sayang, Kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu.
Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, Kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, Aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, Handphoneku kembali berbunyi dan
meski masih kesal, Akupun mengangkatnya dengan
setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, Aku pulang sekarang, Aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , Kuatir Aku menutuptelepon kembali.
Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, Aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku
akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku
pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, Aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal
biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, Terdengar suara asing
menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri,
“Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata
seorang polisi, Ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan
bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang
kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan
ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya
untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar
seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, Serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.
Selesai mendengar kenyataan itu, Aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang
shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan
mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis. Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, Aku termangu menatap
wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati
wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan
padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan
kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku, Mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan
manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, Airmataku semakin deras membanjiri
kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku
berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, Tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat
padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur
makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah
melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang
malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, Karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja.
Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi
permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman- temanku.
Saat pemakaman, Aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan
onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan
dirinya. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan
tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya.
Di hari-hari awal kepergiannya, Aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku
membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk
saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, Aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang
datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku
tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, Membuat teman kerjanya kebingungan
menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, Tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, Tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan
hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melaku kanpekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-
log out, Sekarang aku memandangi komputer, Mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih
tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, Sekarang bekasnya yang
tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mauku hapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya,
Sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan
remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri, Aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju- bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena
tak ada lagi yang membujukku agar tenang, Tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, Meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan
suami yang dianugerahi padaku, Meminta ampun karena
telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang
selama ini kubela-belakan, Hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, Keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi.
Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku.
Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan
pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, Aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika
melihatnya aku terdiam tak menyangka, Ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku
tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain
untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi
bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana ? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh
dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa
banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan
seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, Ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi
suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang, Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu
singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku
bisa, Aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu
saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah
setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk
membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, Ya sayang. Jangan menangis,
Sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini.
Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini.
Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, Putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu.
Dan Farhan, Ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah.
Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya.
Oke!
Aku terisak membaca surat itu, Ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki
beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami,
Sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta. Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu
menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, Tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat
suamiku pergi. Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua
hari lagi putriku menikah dengan seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata,
“Cinta sayang, cintailah suamimu, Cintailah pilihan hatimu, Cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, Kau akan belajar
menyenangkan hatinya, Akan belajar menerima kekurangannya, Akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, Kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku,
“Seperti cinta ibu untuk ayah ? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, Seperti ayah mencintai kalian berdua.
Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, Tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, Tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Penulis : Liliana Armandi.

Sumber

Advertisements
Gallery

Di Pameran Komputer

Panjul dari deso bertemu SPG gaptek di pameran komputer:
Panjul» “Mbak, mo nanya dong? ‘ENTER’ ini maksudnya apa?”.

SPG dgn sigap ngejawab: “Kayaknya u/ mempercepat program deh Mas!”.

Panjul» “Mempercepat gimana maksudnya Mbak?”,
SPG» “Ya biar lebih cepet kerjanya Mas. Kalo tulisannya ‘ENTAR’, khan jadinya lamaaaa……!!!”.

X_X·´¯`·#:-s Ħά̲ϑèêέђh X_X·.¸¸.#:-s

Trus Panjul nanya lagi:

“Mbak, ini saya udah masuk ke internet explorer. Koq saya ketik facebook.com ggak keluar apa2 yah?”.

SPG,» “Laaaa….di depannya Mas udah ngetik www ggak?”.

Panjul»”Waaahh… belom tuh Mbak. Emangnya harus? Sebenernya www itu apa?”.
SPG» “Eeehhmm…. Apa yah? Kayaknya itu singkatan dari Wasalammualaikum Warohmatulohi Wabarokatu….”.X_X

Gallery

Ketika Pria & Wanita Bertukar Posisi

Suatu ketika ada seorang suami yang mengeluh dengan keadaan dirinya yang merasa lelah bekerja setiap hari dari pagi sampai sore bahkan kadang-kadang sampai malam untuk mencari nafkah demi anak dan istrinya. Si Suami semakin jenuh dengan rutinitas yang ada, bahkan dia berpikir ini tidak adil, karena dia melihat istrinya seperti tidak mengalami hal yang sama dengan dirinya. Si Suami merasa istrinya begitu santai menjalani pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Karena setiap si Suami pulang dia selalu melihat istrinya sedang bersantai-santai menonton tivi dan bercengkrama dengan anak-anak. Bahkan istrinya sudah terlihat rapi tanpa ada sedikit kelelahan di wajahnya.
Akhirnya dengan segala ketidak adilan yang dia rasakan, si suami pun mengeluh kepada Tuhannya. “Ya, Tuhan…Saya lelah dengan rutinitas saya, dan saya merasa sepertinya ini tidak adil. Karena setiap saya pulang dari kantor, saya selalu melihat istri saya asyik menonton tivi dan tidak merasakan kelelahan yang saya rasakan. Kalu boleh saya memohon dan meminta, tolong tukarkan posisi saya dengan istri saya. Saya ingin menjadi seorang istri saja dan istri saya menjadi seorang suami agar dia bisa merasakan capek yg saya rasakan.”
Keesokan paginya si suami merasa kaget karena dirinya sudah berubah menjadi istrinya sedangkan istrinya sudah berubah menjadi seorang suami. Sang suami merasa gembira karena doanya dikabulkan oleh Tuhan. Kemudian suami yg berubah menjadi istri mulai mengerjakan apa yang biasanya dikerjakan istrinya. Pagi-pagi sekali si suami yg sudah menjadi istri harus menyiapkan sarapan pagi untuk anak dan istrinya, baju untuk dipakai suaminya bekerja dan untuk baju untuk anaknya sekolah. Belum lagi dia harus mencuci pakaian kemudian menjemurnya, ternyata si suami yang sudah menjadi istri lupa kalau dia pun harus mengantar anaknya sekolah seperti yang dilakukan istrinya setiap hari. Kemudian Si suami yang sudah berubah menjadi istri itu pun mengantar anaknya ke sekolah, dan ketika pulang si suami yang sudah berubah menjadi istri lupa kalau cucian yang tadi dicucinya belum dijemur. Setelah menjemur si suami yang sudah berubah menjadi istri belum bisa santai karena masih ada tumpukan baju yang harus disetrika. Dan ketika dia melihat keadaan rumah, rumahnya masih berantakan karena belum sempat dia bereskan.
Sore harinya ketika si istri yang sudah berubah menjadi suami pulang dari tempat kerjanya, si suami yang berubah menjadi istri bingung karena dirinya belum selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Si suami yang berubah menjadi istri pun bertanya pada dirinya, kenapa istrinya mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang begitu banyak bisa selesai sebelum dirinya pulang dari kantor dan bisa duduk santai menanti dirinya pulang. Tapi sekarang si suami yang berubah menjadi istri tidak mampu melakukan itu. Akhirnya si suami menyerah, dia berpikir lebih baik menjadi dirinya sendiri walaupun harus bekerja dari pagi sampai malam.
Maka malam harinya si suami yang berubah menjadi istripun meminta lagi kepada Tuhannya untuk dikembalikan wujudnya seperti semula menjadi seorang suami. Tapi ketika si suami selesai memohon terdengar suara, “Kamu belum bisa berubah menjadi seorang suami karena di perutmu sudah terdapat janin atas perbuatanmu sendiri, dan kamu harus menunggunya sampai sembilan bulan.”
 
cerita ini ternyata penting buat mereka yg sedang menjalani kehidupan rumah tangga
Mudah2an dengan cerita ini mereka jadi  lebih bisa menghargai pasangan mreka masing2.
dan smoga crita diatas bs menjadi renungan buat pasangan suami istri.

Sumber

Gallery

Tuku Nyang Mini Market versi Suroboyo

Wonokairun lagi blonjo ndhik minimarket cedhak omahe.
Sing dituku tibake daging kalengan gawe pakane kucing.
Pas katene mbayar, Wonokairun ditakoni kasire.
“Mbah, lek sampeyan katene tuku pakan kucing iki, sampeyan kudhu mbuktekno lek sampeyan iku ndhuwe kucing.
Aku khawatir lek tibake pakan kucing iki sampeyan emplok dhewe. ” jare Bunali, kasire.
Wonokairun gak protes, mulih diluk, mbalike nggendhong kucing dipamerno ndhik Bunali.
“Iki kucingku ” jare Wonokairun ambek mbayar daging kalengan gawe kucinge.
Sisuke Wonokairun teko maneh ndhik minimarket, saiki tuku biskuit balung
pakane asu.
Pas katene mbayar, ditakoni maneh ambek Bunali.
“Mbah, sampeyan ndhuwe asu tah ?. Aku khawatir lek tibake pakan asu iki sampeyan emplok dhewe.” jare Bunali, kasire.
Wonokairun gak protes, mulih diluk, mbalike nuntun asu dipamerno ndhik Bunali.
“Iki asuku ” jare Wonokairun ambek mbayar biskuit balung gawe asune.
Sisuke Wonokairun teko maneh ndhik minimarket, saiki nenteng kardus bekase indomi sing pinggire dibolongi sak driji.
“Mbah, sampeyan katene tuku pakane ulo tah ? ” jare Bunali.
“Iki isine dhudhuk ulo. Cobaken tanganmu lebokno kene lek pingin ngerasakno.
Wis tah tak jamin gak bakal nyatek. ” jare Wonokairun.
Pertama Bunali rodhok wedhi, tapi mari dibujuk Wonokairun akhire Bunali kendhel. Drijine dilebokno ndhik bolongane kerdus.
Tibake njerone onok gembuk-gembuke. Pas drijine ditarik maneh, ambune malih gak whuenak.
Bunali misuh-misuh gak karuan, “Damput, ancene wong dhobhol, lha laopo aku sampeyan kongkon ndhemok tembelek.”
“Saiki, oleh tah aku tuku tisu kamar mandi ?”.

Gallery

Nguntal Yuyu versi Suroboyo

Sore-sore Wonokairun dijak ngobrol ambek Bunali.
“Mbah. Jare arek-arek sampeyan wis rabi ping telu. Yo tah ? ” takok Bunali.
“Yo bener. Tapi bojoku wis tebhal kabeh. ” jare Wonokairun.
“Lho kok isok ?” jare Bunali.
“Sing pertama mati nguntal yuyu. ” jare Wonokairun
“Lha sing kedua ?” takok Bunali
“Sing kedua mati nguntal yuyu. ” jare Wonokairun.
“Lha sing ketiga yo nguntal yuyu pisan ” jare Bunalu kemeruh.
“Gak. Matine mergo tak gibheng.” jare Wonokairun.
“Lho opoko ?” takok Bunali.
“Soale gak gelem nguntal yuyu . . .”

Gallery

Pengertian Papa

Suatu malam, Mama yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam Mama selesai menghidangkan makan malam papa yang sangat sederhana berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.
Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong !, saya melihat mama sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis.
Kami menunggu dengan tegang apa reaksi Papa yang pulang kerja, pasti sudah capek melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.
Luar biasa !
Papa dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan mama dengan tersenyum, dan bahkan berkata; ” mama terima kasih !”, dan papa terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar mama meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu, dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang papa katakan:
“Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong.”
Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada Papa, saya bertanya apakah Papa benar-benar menyukai telur dan tempe gosong ?”.
Papa memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata “Anakku, Mama sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek, Jadi sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun kok!”
Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tSuatu malam, Mama yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam Mama selesai menghidangkan makan malam papa yang sangat sederhana berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.
Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong !, saya melihat mama sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis.
Kami menunggu dengan tegang apa reaksi Papa yang pulang kerja, pasti sudah capek melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.
Luar biasa !
Papa dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan mama dengan tersenyum, dan bahkan berkata; ” mama terima kasih !”, dan papa terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar mama meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu, dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang papa katakan:
“Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong.”
Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada Papa, saya bertanya apakah Papa benar-benar menyukai telur dan tempe gosong ?”.
Papa memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata “Anakku, Mama sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek, Jadi sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun kok!”
Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya; ” Belajar menerima kesalahan orang lain, dan memilih untuk tetap menghargai dan merayakannya !”, adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi .
Bahwa kesalahan bukanlah mesti dijadikan sasaran tembak menyakitkan orang yang kita sayangi, tetapi justru menjadi pintu masuk menyatakan sikap sayang dan membukakan pintu maaf tahun berikutnya; ” Belajar menerima kesalahan orang lain, dan memilih untuk tetap menghargai dan merayakannya !”, adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi .
Bahwa kesalahan bukanlah mesti dijadikan sasaran tembak menyakitkan orang yang kita sayangi, tetapi justru menjadi pintu masuk menyatakan sikap sayang dan membukakan pintu maaf.

Gallery

Kehadiran Sang Papa

Tomi, Pimpinan sebuah perusahaan di Jkt, tiba di rumahnya jam 9 malam.

Tak seperti biasanya,anaknya, dinda, umur 9 th membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, blum tidur?” sapa tomi

“Aku nunggu Papa pulang,
sbab aku mau tanya,
Berapa sih gaji Papa?”

“Kamu hitung ya..
Tiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam & dibayar 400.000,
tiap bulan rata-rata 22 hari kerja,
kadang Sabtu masih lembur.
Berapa gaji Papa hayo?”

“Kalo 1 hari Papa dibayar 400.000 u/ 10 jam,
berarti 1 jam Papa digaji 40.000 dong”

“Wah, pinter kamu.
Sekarang cuci kaki, terus tidur ya..”

“Papa, aku boleh pinjam 5.000 gak?”

“Sudah, gak usah macam-macam..
Buat apa minta uang malam-malam gini? Tidurlah..”

“Tapi Papa…”

“Papa bilang tidur!”

Dinda pun lari menuju kamarnya sedih.

Usai mandi,
Tomi menyesali kekesalannya,
menengok dinda di kamar tidurnya sedang terisak sambil memegang 15.000

Sambil mengelus kepala dinda, tomi berkata,
“Maafin Papa ya..
Papa sayang sama dinda..
Tapi buat apa sih minta uang sekarang?

“Papa, aku gak minta uang.
Aku hanya pinjam,
nanti aku kembalikan kalo sudah menabung lagi dari uang jajan seminggu ini.”

“lya, iya, tapi buat apa?”

“Aku nunggu Papa dari jam 8 mau ajak Papa main ular tangga 30 menit aja.

Mama sering bilang waktu Papa itu amat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa.
Aku buka tabunganku hanya ada 15.000…
Karna Papa 1 jam dibayar 40.000,
maka setengah jam aku harus ganti 20.000..
Duit tabunganku kurang 5.000,
makanya aku mau pinjam dari Papa” kata dinda polos

Tomi pun terdiam.
Ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dgn haru.

Dia baru menyadari,
ternyata limpahan harta yg dia berikan selama ini,
tak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.
Ternyata kebahagiaan keluarga terletak pada kualitas waktu yang dia berikan,
Kehadiran seorang ayah yang nyata.

Tag Cloud